Mie Vegan, Gimana sih Rasanya ?

Makanan adalah cerita, makanan adalah hasrat, makanan adalah harapan dan makanan adalah tentang kesehatan.

Semakin kesini, dalam artian umur yang terus berlari dalam mati. Hidup membuat kita harus terus bergerak. Menyusuri cara sehat dan untuk menjaga tubuh tetap prima.Belum masalah pandemi yang terus menghantui. Harap akan kesehatan. Imipian tentang bertahan.

Beberapa bulan lalu, saya jatuh hati dengan film The Game Changer. Film dokumenter yang saya pikir pertama kali tentang pertandingan olahraga. Tak ada yang merekomendasikan, saya tak tahu baca dimana. Tapi tampaknya itu seperti jalan hidup. Pesan panjang akan kesehatan tersurat.

Dimulai dari seorang atlit cidera. Dia mulai mencari refrensi untuk pemulihannya. Baca jurnal sains, bertanya pada ahli, hingga jatuh pada diet pola makan dengan sebutan Plant Based.

Bagi saya, Plant Based terasa asing. Tapi lebih mudahnya orang menyebutnya sebagai vegan. Cara hidup dengan vegan sebenarnya sudah lama terdengar. Tanpa makan daging dan turunannya, dengan berbagai dasar kepercayaan. Ada yang tak ingin membunuh, atau menolak kapitalisme.

Dalam Plant Based, secara konsep makanan hampir sama. Cuma lebih ke penekanan cara makan dengan tumbuhan agar lebih sehat. Nanti kapan-kapan saya akan bahas tentang ini, toh saya baru 3 bulan Plant Based Bukan suatu pencapaian.

Hampir 3 bulan Plant Based. Berarti saya juga tidak makan Indomie. Makanan kesukaan hampir seluruh masyarakat kita. Makanan dewa, penyelamat lapar dan cerita yang seakan tak ada habisnya. Tapi dari tidak makan Indomie juga, saya baru mengerti. Bahwa ada komunitas komunitas kecil. Mengganti makanan hewani menjadi produk nabati. Salah satunya adalah mie yang menggantikan Indomie.

Sebagai catatan, saya tidak dibayar. Hanya mencari beberapa menu mana paling enak. Sekarang kebetulan, pilihan jatuh pada satu Toko, Hejo Fresh dengan produk andalannya Mie Vegan.

Menurut saya, Mie enak hadir lewat kekenyalannya. Jika bicara kenyal, tepung dan telur biasanya jadi kunci. Pada mie ini, tak ada telur. Mereka menulis jelas bahan bakunya, namun yang hebat rasa kenyalnya masih terasa. Saya bilang ini masih sangat enak untuk disantap.

Bumbu Mie Vegan Hejo menjadi catatan. Saya merasa terlalu sedikit. Tapi bagi saya tak masalah. Tetap nikmat disantap. Sebagai pengganti makanan indomie, ini adalah jawaban. Sebagai kesehatan dan tidak setiap hari ini juga pilihan. Nanti, kalo saya coba produk lain akan saya tuliskan disini. Kalo sedang tidak keberatan, saya juga membuat cerita dalam bentuk video. Silahkan mampir dan bercerita.

3 thoughts on “Mie Vegan, Gimana sih Rasanya ?

  1. Aku juga dulu sering nonton dokumenter tentang makanan, mulai dari Food, inc. That Sugar, dll. Sempat mengubah pola makan juga. Tapi aku nggak kuat, dan bertahan sebentar saja ehehehe. Pernah vegan sebulan juga dan gak kuat liat rendang hahaha. Sekarang tetep makan, tetapi porsi dibatasi saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.