Pengalaman Test PCR

Banyak yang bilang, tahun ini adalah tahun yang begitu luar biasa. Bahkan ada lelucon yang mengatakan bila Tahun 2020 dimulai hanya pada bulan Januari sampai Maret, maka sisa bulannya adalah latihan akhir jaman.

Sempat tertawa membaca itu, kemudian ingat perihnya, lalu kembali tersadar bahwa aku tak boleh menyerah dan berhenti disini.

Hobi baru, Rapid

Saat Indonesia mengumumkan PSBB pertama kali. Ada rasa khawatir. Ketakutan datang setiap hari. Asupan bacaan berita soal Covid 19 seakan menjadi bom khawatir yang menggetarkan jiwa. Papan angka jumlah penduduk negeri ini yang terkena terus bergerak naik. Hingga ada satu titik mulai cuek, tidak terlalu waswas dan bahkan banyak yang acuh.

Konon hidup memang seperti itu. Bumi selalu mencari keseimbangannya. Saat orang memborong masker, obat dan proteksi setiap hari pada saat pemerintah memgumumkan kasus pertama. Maka kelak akan menjadi titik balik. Hari ini, bulan ini titik balik itu rasanya mulai hadir. Bersama dengan trend sepeda yang menjamur, cafe dan tempat makan yang mulai dibuka lalu yang paling terbaru pemerintah menarik kembali rem daruratnya, PSBB seperti awal berjalan kembali.

Takut itu pasti, manusia hidup dengan rasa itu. Namun mawas diri juga merupakan kunci. Beberapa bulan saat pandemi, saya harus bergerak. Bahkan ke luar kota. Jika mau menilik maka koleksi rapid test saya banyak sekali. Bagaimana tidak, hampir setiap minggu kebijakan kantor mengharuskan karyawannya rapid sebelum masuk ruangan. Rapid masih kurang, maka SWAB test harus dilakukan. Iya, SWAB test atau PCR. Karena beberapa daerah mengharuskan persyaratan tersebut untuk masuk ke wilayahnya. Itu yang saya lakukan saat dinas, seakan menjadi hobi baru.

Jika mau dibedah, apa sih PCR Test itu? Adapun PCR adalah singkatan dari polymerase chain reaction. PCR merupakan metode pemeriksaan virus SARS Co-2 dengan mendeteksi DNA virus. Uji ini akan didapatkan hasil apakah seseorang positif atau tidak SARS Co-2. Sedangkan SWAB test adalah cara pengambilan sampelnya. Jadi hidung dan mulut kita dimasukkan semacam alat untuk mengambil sample kemudian di test di lab menggunakan metode PCR.

Rasanya benar-benar luar biasa

Lalu bagaimana rasanya SWAB test, hmmm kalo aku bilang sih gak begitu sakit bagiku. Tapi reaksi ini kan berbeda beda. Ada kawan yang bilang SWAB itu menyakitkan, semacam ada abon cabe level 15 ditaruh hidung. Ada yang biasa saja. Tapi yang paling menyakitkan sih kantong buat bayar SWAB-PCR. Mahal banget cuy, entah kenapa juga pemerintah belum menggalakkan SWAB massal. Mungkin karena harganya terlampau tinggi kali ya.

Lalu jika ada pertanyaan, kapan saya harus SWAB-PCR ?

Dalam beberapa jurnal dan informasi yang saya dapat, PCR dapat dilakukan dengan kondisi sebagai berikut :

1. Orang dengan kategori suspek karena ada gejala sesak napas, sakit tenggorokan, batuk, disertai demam 38 derajat Celcius.

2. Orang yang memiliki kontak erat dengan pasien Covid-19.

3. Orang yang terkonfirmasi reaktif berdasarkan hasil rapid test.

4. Orang yang berpergian keluar kota atau luar negeri pada 14 hari terakhir. 

Dengan biaya yang tinggi dan waktu yang lama juga peningkatan kasus yang makin tinggi, maka ada baiknya kita kembali mengecangkan protokol diri agar senantiasa dilindungi.

Untuk pemesanan PCR test, kalian juga bisa melakukan di HaloDoc. Dimana ada banyak pilihan tergantung kantong yang dituju. Salam sehat semua

2 thoughts on “Pengalaman Test PCR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.