Masker, Kesehatan dan Harapan Saat Corona

Konon katanya, kepastian dalam hidup adalah ketidakpastian itu sendiri. Dan saya pikir, hampir jutaan orang merasakannya sekarang. Ketidakpastian kehidupan, ketidakpastian mimpi dan mungkin harapan yang harus berubah karena satu kejadian, Virus Corona.

WhatsApp Image 2020-04-17 at 11.07.48

Jakarta

Hampir tepat satu bulan pertama saya melihat banyak perubahan. Jakarta yang mulai sepi, jalanan lenggang, manusia kebingungan dan keluh kesah tak berkesudahan karena kehilangan pekerjaan. Dan itu hadir di depan mata, sampai kebingungan ini akan berakhir sampai mana?

Hampir tepat satu bulan saat kasus Virus Corona hadir di Indonesia. Ketidakpastian itupun berlanjut. Kita dipaksa melihat bagaimana Masker harganya tiba-tiba melonjak tinggi. Vitamin dan suplemen yang tiba-tiba hilang, hingga cerita APD yang menyesakkan.

Waktu yang singkat ternyata telah merubah semua hal, kita yang lemah ini dipaksa tunduk. Dan memang manusia mempunyai akal, maka beradaptasi adalah salah satu pilihan. Dan memang manusia mempunyai pikiran, maka terus berusaha dan bertahan adalah salah satunya jalan.

Dalam kondisi seperti ini, ingatan saya tiba-tiba teringat pesan dari Ibu. Beliau bilang, bahwa hidup ini memang tak akan pernah selalu seperti apa yang kita inginkan. Kadang kita harus berdamai, bersalaman dengan nasib sembari mencari solusi, apa yang akan membuat kita berarti setelah masa Pandemi.

Awal sekali, saat virus Corona hadir. Berita selayaknya sungai yang dialiri arus informasi begitu deras. Kita seakan dibuat tenggelam olehnya. Ada yang menyeret dalam jurang ketakutan, ada yang membawa dalam arus kewaspadaan. Datang silih berganti, kadang membuat gila, menyerang mental hingga membuat frustasi.

DSC08437

Masker Beli di HaloDoc

Masih kuingat bagaimana informasi bahwa masker itu hanya untuk orang sakit. Kubagikan catatan ilmiah, agar semua tak memborong masker. Tapi selang beberapa saat himbauan itu berubah. Kita semua diwajibkan memakain masker. Masker semakin tak terkira, melambung semakin tinggi dengan harga yang tak manusiawi. Beruntung, munculah berbagai solusi. Masker kain sebagai pengganti. Sempat menjadi pro kontra, akhirnya semua orang menyepakatinya. Dengan catatan, masker kain bukan sembarang masker. Ada beberapa lapis yang harus ada dalam masker itu. Sederhana, sebagai pelindung. Dan memang kita sebagai masyrakat harus pandang memilah masker mana yang paling baik.

Akhirnya saya membeli banyak masker, melakukan pengetesan sendiri dengan cara sederhana, memakai korek api. Caranya kita menggunakan masker, korek api dinyalakan lalu coba tiup. Bila mati, tak bagus maskernya, bila hidup korek apinya, sedang engkau tetap mencoba meniup sekeras kepala namun tak juga padam. Maka sebaiknya engkau memasukkan itu menjadi pilihan.

DSC08444

DSC08442

Masker beli di Halodoc

Sampai saat ini, ada 3 masker tidak tembus angin untuk mematikan korek. Tapi saya lebih nyaman memakai masker Sritex  dari Halodoc dan masker kain dari donator yang sudah saya bagikan. Saya membeli masker kain di aplikasi Halodoc, harga per pack sangat murah, berkisar IDR 50,000 sampai 55,000 dengan isi 10masker. Sangat memudahkan, belum lagi HaloDoc juga menyediakan info  dokter terdekat di sekitar rumah kalian. Bukankah itu hal yang luar biasa ditengah pandemic agar kita tidak berpergian terlalu jauh. Sungguh di saat seperti ini, teknologi memang harus patut kita syukuri, dan dengan adanya Halodoc, saya pikir ini adalah langkah awal bagaimana kita memang harus membuka mata untuk masa depan dengan aplikasi yang memudahkan kita untuk menjalani kehidupan.

Akhir kata, tetaplah sehat, tetaplah waras, dan tetaplah berkarya. Kita tidak pernah tahu kapan ini berakhir. Tapi harapan semestinya jangan pernah padam

6 thoughts on “Masker, Kesehatan dan Harapan Saat Corona

  1. Betul mas. Kadang saya sendiri bingung mau menerapkan seperti apa. Kadang juga merasa jenuh dengan protokol yang ribet setiap kali keluar dan masuk kembali ke rumah. Di sisi lain, dengan “ide bisnis”nya beberapa oknum orang indonesia buat masker jadi gila-gilaan. Entah apa yang dipikirkan. Semoga segera menemukan titik terang kembali ya mas. Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.