Saya, Liverpool dan Anfield Stadium

Liverpool menyambut kedatangan saya dengan hujan dan dingin. Tetapi saya tetap bahagia. Menginjakkan kaki ke tempat ini membuat hati saya menjadi hangat. Seperti kampung halaman yang tidak pernah dikunjungi. Atau saat meminum teh hangat buatan ibu saat kamu sakit pada masa kecil. Liverpool adalah kerinduan, yang sulit untuk dijelaskan.

_DSC1654

Saya selalu percaya, bahwa suatu tempat dimana pun itu, selalu mempunyai ikatan kepada kita. Barangkali itu yang ada pada Liverpool. Bukan saya yang menginginkan pergi ke Liverpool, tetapi Liverpool yang memilih saya. Panggilan hati, lewat izin–Nya dengan berbagai cara.

Saat kelas 6 SD, saya suka sekali dengan Playstation. Walau tak punya alatnya kala itu tak menghalangi niat saya untuk mencuri waktu bermain Playstation.

Klub yang saya pilih jika bermain game adalah Liverpool. Sederhana, karena ada Michael Owen disana. Sudah ganteng, punya kecepatan dan ahli mencetak gol. Belum lagi warna merah pakaian kostumnya. Tanpa setan, warna merah lebih bersahaja. Hingga ikrar itu tumbuh.

Mencintai satu klub di Eropa sana: Liverpool!!

 

DCIM102GOPROGOPR9228.JPG

Fans Liverpool

 

Cinta ternyata sangat sederhana. Dari Playstation, saya semakin tertarik dengan dunia sepak bola. Seingat saya sepakbola Inggris dan Italia kala itu begitu terkenal. Dan Liverpool benar-benar menghipnotis saya. Saya tumbuh di antara nama besar Robbie Fowler, Emil heskey, Xabi Alonso dan jersey kebanggaan berwarna merah: Liverpool.

Beberapa tahun berlalu, juara Champion dengan segudang ceritanya telah kita lalui. Sebagai fans yang dihina pemuja masa lalu saya hanya terseyum. Apalah artinya orang berkata jelek. Toh cinta memang selalu membuatnya melihat dengan cara yang berbeda.

 

DCIM102GOPROGOPR9085.JPG

Bus Liverpool

Saya menunggu di Albert Dock, bus Liverpool yang saya pesan dari web tour Liverpool belum juga sampai. Entah kenapa jika mengingat Albert Dock ada kesan yang sedikit menjengkelkan.

Kala itu, karena hujan yang lebat saya akhirnya memesan taksi menuju Albert Dock dari stasiun. Bukan harga yang mahal sebenarnya. Tetapi sebuah percakapan dengan pengemudi taksi di sana, yang ternyata adalah seorang fans Everton.

Satu dua patah kata, lalu akhirnya bikin malas untuk melanjutkan percakapan. Dan dia menurunkan saya di shelter yang dia yakin 100 persen adalah penjemputan stadium tour. Tapi setelah dia berlalu saya tanya ke petugas shelter bahwa ternyata tempat itu adalah untuk tour kota liverpool, bukan tour ke stadium.

Duh Gusti, apakah persaingan bola sampai segitunya, menjadikan anak kampung dari ujung negeri ini sebagai korban??? Belum selesai sampai di sana. Tripod kesayanganku pun tertinggal di taksi. Sungguh, cinta ternyata banyak cobaannya. Walau kita percaya bahagia selalu saja menunggu di ujung sana.

 

_DSC1651

Welcome to Anfield

DCIM102GOPROGOPR9118.JPG

On the Bus

Setelah berjalan beberapa menit ke shelter tempat bus Liverpool datang, akhirnya saya sampai juga di Anfield. Hati saya bergetar. Badan saya merinding, sebuah rindu yang tak sempat terucap akhirnya terjawab. Sebuah kemurahan dari Tuhan, bahwa saya diberikan kesempatan untuk melihat Anfield Stadium secara langsung. Titik awal tentang kecintaan dengan sepakbola dimulai dari sini, mengirimkan energi kepada penggemar di seluruh dunia.

 

IMG-7567

Bill Shankly

Patung Bill Shankly dengan slogannya “He made the people happy,” menyambut saya hari itu. Sebuah pesan semesta, bahwa taburkanlah benih bahagia, bukan benih keturunanmu di sembarang tempat.

 

_DSC1614

Menurutku Liverpool bukanlah hanya sebuah klub. Dia adalah budaya. Di mana orang yang sebelumnya tidak saling kenal memasuki stadion. Bernyanyi dengan yel-yel yang sama. 

Tertawa bersama saat kemenangan diraih. Saling menguatkan saat Liverpool kalah. Dan rasa itu adalah sebuah ikatan.

Menyatu dengan darah, kebersamaan berdetak bersama jantung. Sungguh saya tak berlebihan. Tetapi begitulah adanya.

_DSC1610

Ada Bahasa Indonesia

Sebuah kotak ajaib diberikan kepada saya setelah regitrasi pendaftaran tour dimulai. Kotak yang mirip handphone. Memutar perjalanan tiap sudut stadion. Petunjuk digital. Lagu-lagu yang dinyanyikan saat pertandingan dan bahkan bagaimana sejarah diceritakan. Saya melangkah dengan perlahan hampir merayap, seperti anak kecil yang diam-diam kabur saat bapak ibunya meminta dia tidur siang. Setiap sudut saya pandangi dengan perlahan, tak ingin terlewat. Ingatan, aroma dan rasa yang tak pernah saya lupa.

DCIM102GOPROGOPR9141.JPG

Anfield Stadium

Entahlah, apa yang ada dalam pikiran saya kala itu. Tidak lagi terfikir saya akan membuat konten yang bagus di sana. Saya seperti linglung. Disana saya begitu menikmati. Berdiri di atas menatap rumput Anfield dari ketinggian. Duduk di kursi penonton, dan memejamkan mata. Membayangkan suara dukungan suporter untuk 1 klub kesayangan yang sama.

 

DCIM102GOPROGOPR9202.JPG

Sudut Stadium

 

_DSC1629

Pakaian Ganti

 

DCIM102GOPROGOPR9175.JPG

Dapur di Anfield

 

DCIM102GOPROGOPR9193.JPG

Sudut stadion

fcsfsfs.jpg

_DSC1622

The Kop

_DSC1613

Juara

 

Final piala Champion 2018 akan bergulir. Dan apapun yang terjadi, saya tetap mencintai klub ini…

Menang kalah setelah berjuang itu soal nasib. Tapi mencintai adalah pilihan. Dan saya bersama Liverpool…..

 

 

SALAM YNWA

 

 

 

Info lebih lanjut tentang Tour Stadium Anfield bisa lihat di sini ya: https://stadiumtours.liverpoolfc.com/tours

 

Advertisements

21 thoughts on “Saya, Liverpool dan Anfield Stadium

  1. sumpah mupeng nih…tapi saya maunya ke old traford…
    btw jenengan tampak bahagia sekali ya ketika di anfield..
    btw mitos angker anfield masih melekat gak sih kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s