Teknologi Comutter Vending Machine( C-VIM), benarkah memudahkan pengguna KRL?

Manusia selalu bermimpi, berkawan baik dengan teknologi. Lalu berjalan bersamaan dengan sebuah kemudahan dalam segala aspek kehidupan.

comutter vending machine

Antrian C-VIM di stasiun Jakarta Kota

Suasana panas menyergap tubuh, sekitar 10 kipas angin bersuara lantang. Memberikan sejuk angin harap agar para pengantri tidak mengucapkan sumpah serapah. Saat pergantian teknologi tidak dijadikan kambing hitam, kata-kata dari sekumpulan pengantri berlanjut, bersama riuh komentar negatif karena lamanya menunggu antrian C-VIM.

Saya bukanlah pengguna KRL setia, hanya pengguna kereta jarak jauh yang masih menjadi PJKA, melintasi perjalanan hampir setiap minggu dari Jakarta-Semarang. kemarin kebutulan saya absen untuk pulang, setelah beberapa kesibukan sudah mulai selesai, ada niatan untuk berjalan di sudut Jakarta. mengambil beberapa foto, mengabadikan gambar yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Hingga saya menemukan perubahan baru. Perubahan yang digadang menuju ke arah lebih baik terutama untuk para pengguna KRL.

KRL

antrian

Terobosan perubahan itu bernama  Commuter Vending Machine (C-VIM). Sebuah mesin yang melayani kita, tanpa bantuan loket dan antrian. Dimana saat ini sudah tersedia di hall utama stasiun Jakarta kota, selanjutnya rencananya akan ada di setiap stasiun KRL. beberapa orang masih bingung, beberapa tampak marah karena jam sibuk yang harus mengantri dan beberapa tetap santai menyikapi perubahan tersebut.

_DSC0748-01_wm

Setelah lama menunggu

Sejatinya alat seperti ini memang begitu praktis, tujuannya selain menggurangi antrian juga lebih memudahkan. Tetapi sayang, kurangnya sosialisasi kadang membuat antrian malah menjadi lama, bahkan saking isengnya saya menghitung berapa waktu yang dibutuhkan setiap orang untuk mengoperasikan alat tersebut pada saat jam sibuk.  dan jawabannya cukup bikin kaget, karena rata rata hampir 1 menit  dimana disebabkan karena masih bingungnya orang dalam menggunakannya. Selain itu petugas hanya menjaga mesinnya, sedangkan orang antri tidak diberi sosialisasi padahal mesin hanya bisa menggunakan pecahan uang tertentu. Seingat saya 10 ribu dan 20ribu, dimana ada para pengantri yang menggunakan uang 100 ribu, sehingga petugas masih bingung menukar uang tersebut.

Oleh karena itu dalam merayakan perubahan ke arah lebih baik. Terlampir video dan screenshot video sederhana cara mesin C-VIM bekerja saat membeli THB.  semoga sedikit membantu :

 Untuk screenshotnya :

Screenshot_20160112-081556-01_wm

Pilih Beli THB Baru

Screenshot_20160112-081605-01_wm

Pilih stasiun

Screenshot_20160112-081657-01_wm

Proses pembayaran

 

Screenshot_20160112-081705-01_wm

Masukkan uang anda

 

Screenshot_20160112-081742-01_wm

Masukkan uang ke dalam

Screenshot_20160112-082141-01_wm

Ambil Kartu THB

Screenshot_20160112-082115-01_wm

Ambil uang kembalian

Setiap perubahan itu butuh proses, dan bagimana proses tersebut siap dilaksanakan adalah ada pada tujuan yang bisa dijalankan secara bersama-sama. semoga perubahan ini bisa diterima dengan baik dan mimpi transportasi perjalanan yang nyaman mulai terwujud.

Jadi sudah mencoba C-VIM saat naik KRL di perjalanan ada ?

Advertisements

34 thoughts on “Teknologi Comutter Vending Machine( C-VIM), benarkah memudahkan pengguna KRL?

  1. Gak tertarik kak. Lagi musuhan sama KRL beberapa bulan ini, makin lelet, makin ditahan-tahan, makin sering gangguan, dan hal-hal menyebalkan lainnya. *curhat dan marah2 di lapak orang* x)))))

    • Hahahaha mungkin kita kudu piknik 😀 ,

      Sebenarnya aku juga lg males.. kemarin antri beli THB lama banget pake metode itu. tapi karena iseng aja. Jd ku foto2 gag jelas dan malah bkn post. Hahahaha

  2. wah kebetulan kantor aku memproduksi vending machine – untuk VM jenis minuman yang sudah sering dilihat di mana mana aja orang masih suka kagok, walaupun lebih sederhana dan sudah ada instruksinya.
    dan walalupun tiap hari ‘ngambil’ minuman di VM kantor aku pasti bakal tetep kagok pertama kali mencoba C-VIM :)) jadi yang gak kalah penting tuh emang sosialisasinya yaa

  3. Menurut saya kelebihan pakai mesin itu lebih tertata dan seragam, tapi belum tentu lebih cepat. Saya suka bikin flowchart nya.

    Kalau ke loket biasa: bilang stasiun tujuan, tunggu beberapa detik, bayar, terima tiket, terima kembalian. Total: 15-20 detik

    Kalau mesin tiket: pilih jenis pesan tiket, pilih stasiun, konfirmasi, masukkan uang ke mesin, ambil tiket, ambil kembalian kalau ada. total: 40 detik.

    Kalau mau pakai mesin tiket lebih bagus pakai tombol daripada touchscreen. Dan mengingat jakarta ini komuter bejibun, mesin tiket per stasiun bagusnya 15-20. Di Jepang saja segitu banyaknya 🙂

  4. Bener kak, sekarang nggak apa – apa banyak yang masih bingung, de el el. Tapi perubahan ke arah yang lebih baik butuh waktu dan proses. Jadi suatu saat nanti warga Indonesia lebih cerdas dan pintar karena pengalaman ini,,,, 🙂

  5. Wah, ada vending machine! Jadi benar-benar kayak Metro ya. Vending machine memang biasa menerima pecahan tertentu. Di Bangkok, BTS-nya cuma menerima uang koin, kalau kita nggak punya uang receh, bisa tukar di petugas.

    Nah, di sini selain kurang sosialisasi, juga kurang memfasilitasi hal-hal di luar kendali seperti itu. Tapi ini sebuah kemajuan, aku suka 😀

  6. Karena udah pakai emoney, jadi aku hampir udah ga pernah lagi beli THB.
    Di satu sisi, suka sih dengan teknologi C-VIM ini, tapi kasihan juga kalau ada penumpang yang -misalnya- buta huruf, trus mesti beli tiket.

    Btw, thank you ya Pocari Sweat-nya semalem! 😀

    • hahahaha sama2 kak…

      benar kak, ada plus minusnya, tetapi semoga plusnya kedepan lebih banyak daripada minusnya…

      kak, aku gag bisa komen di webmu kalo pake pc.. waktu mau ngisi :

      name:
      emai:
      dll

      ketutup ama theme categoriesnya

  7. Beberapa waktu lalu sempat mampir ke stasiun Kota dan sudah melihat jejeran vending machine ini. Pertama – tama saya pikir, ini utk mengembalikan kartu THB dan ambil deposit, ternyata pas saya mau beli tiket baru di loket, saya langsung diarahkan ke sana.

    Jujur aja sih, agak bingung pertama – tama karena tidak ada petunjuk yang jelas, jadi mesti nyari2 dulu di mana sih mulainya haha. Untung ada petugasnya yang ngarahin dan lebih cepat.

    Ini butuh waktu aja sih, lama kelamaan juga biasa 😉

  8. Kebetulan saya teknisi sekaligus yang merakit mesin C-Vim . Untuk kedepanya akan di evaluasi agar terus lebih baik lg dan akan diadakan penambahan – penambahan jumlah mesinya . mohon maaf bila untuk saat ini antrian masih panjang dan lama .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s