Menyusuri kedamaian Taman Hutan Raya Ir.H. DJuanda [Bandung]

Hari kerja membuat taman Hutan Juanda menjadi sepi. Weekend warior belum bergerak untuk piknik. Hingga saya leluasa mendengar nafas alam begitu mesra mencumbu angan. Menikmati detik detik waktu yang tak mau berhenti.

Salam dari air terjun omas

Salam dari air terjun Omas

Langkah kaki membawa imajinasi baru bagi pikiran saya, melahap rintangan demi rintangan memasuki hutan.Baru beberapa langkah, para tukang ojek sudah berjajar rapi dan pasang senyum. Menawarkan jasanya menuju curug. Sungguh itu merupakan penghinaan dan rayuan. Padahal saya ini bergelar pecel lele ( pendaki cepat lelah letih & lesu) yang sudah menaklukan beberapa puncak tidak nikmat,  tapi ah sudahlah. Jalan menyusuri taman hutan di hari kerja lebih menarik daripada menghemat keringat yang bercucur. Jadi saya memutuskan tetap berjalan menyapa alam. Walau memang agak lumayan jikalau ditempuh dengan berjalan kaki.

Jalan di Taman Hutan

Jalan di Taman Hutan

Jembatan

Jembatan

Taman Hutan Juanda terletak di antara Desa Ciburial, Desa Langensari, dan Desa Cibodas. Luasnya sekitar 527,03 hektar, membentang dari kawasan lembah Cikapundung di Dago Pakar sampai ke Maribaya di kawasan lembah perbukitan Dago Utara. Disana memang mempunyai beberapa area wisata, ada penangkaran rusa, Gua Jepang, Curug Omas, Curug Lalay  dll.  Bahkan dari sini kita bisa langsung menuju tebing yang terkenal, tebing keraton. Sayang waktu tak bisa membwa saya lebih lama berada disana. Sehinga saya hanya berjalan mengunjungi beberapa wisata saja. Disamping itu harga ojek disana juga mahal. Dari curug ke tebing keraton seharga 500k.. ditawar pun mentok 300K. fyuuuh

bukanrastaman hutan juanda 11111 (1 of 1)

Dalam Langkah hijaunya daun

Dalam Langkah hijaunya daun

Kemarau panjang  hampir mengeringkan sebagian nusantara rupanya tak berlaku disini. Debit air masih deras, pemandangan hijau tampak menghiasi. Suara daun yang jatuh sesekali menyapa telinga. konser suara alam untuk hati bagi para perindu. Sebuah ketenangan jiwa setelah melawan kepenatan hidup dan udara baru untuk polusi yang tak terkendali. Memang beberapa sampah ada di sudut sungai. Kesadaran awal yang kemudian sering terlupa dari desa atas  taman hutan. Hingga beberapa sampahnya membentuk lendir putih di sudut sudut sungai. Walau salah satu air terjun sulit untuk diakses, tetapi kotornya tentu membuat mata agak tidak nyaman.

Aliran salah satu sungai di Hutan Juanda

Aliran salah satu sungai di Hutan Juanda

bukanrastaman hutan juanda 111 (1 of 1)

Curug entah apa namanya, aliran airnya kenceeng

Tiket masuk hutan juanda sebesar 32 ribu rupiah,  digunakan untuk 2 orang dengan 1 mobil. meskipun  tertera 1 tiket seharga 10ribu, Tetapi entah kenapa kita tetap dipaksa untuk bayar lebih, Selisih 2rb rupiah sebenarnya. walau terkesan sepele dan tidak seberapa. Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi. Mengingat taman ini bisa jadi potensi bagus untuk kota bandung kedepan.

Jadi masih bingung kemana kalo pergi ke Bandung?

Advertisements

60 thoughts on “Menyusuri kedamaian Taman Hutan Raya Ir.H. DJuanda [Bandung]

  1. Serius itu harga ojeknya segitu? Edan tenaaaan, mahal banget mereka narik bayarannya.
    Btw, keliatannya enak tempat ini. Adem, hijau, banyak badan air. Cuma kayaknya jarang yang mandi-mandi di curug atau sungai nya ya?

  2. Itu betulan harga ojeknya segitu Mas? Waduh. Kalau rute ojek itu ditempuh dengan jalan kaki, bisakah? Kalau bisa, kan mendingan saya pakai uang segitu buat beli minuman dingin berkardus-kardus ya Mas, buat logistik kalau jalan dan trekking di sana (padahal nanti bingung juga bawanya bagaimana, habisnya kan berat ya :haha).
    Btw, ini Dago? Jadi apa Curug Dago itu ada di sini? Kalau ada, kabarnya di dasar Curug Dago itu ada prasasti, saya penasaran dengan prasasti itu :haha. Ah tapi bahkan ke Bandung pun saya belum pernah!

    • beneeer parah gag ya 😦

      eh masak kak Gara belum pernah ke Bandung. boleh tuh kita adakan maen kesana. kayaknya curug dago satu kawasan kak. cuma aku malah gag ngerti kalo ada prasasti, karena yang ciomas aja mau turun susah bangeet kak. lagian airnya lagi kotor juga 😦

      • Iya Mas, saya belum pernah ke Bandung (padahal kan dekat banget ya? :haha). Yang saya baca dulu sih demikian Mas, katanya di dasar curug Dago ada prasasti, makanya saya penasaran dan kepengin lihat :hehe.

  3. bolak-balik ke Bandung belum pernah main-main sampe ke hutan raya Juanda ini. kalau ke tebing keraton sih malah udah pernah, hahaha… nice post mas, boleh dicoba kapan-kapan kalau pas ke Bandung. 😀

    btw, salam kenal masnya.. kalau BukanRastaman trus siapa ya? haha…

    • saya yang belum pernah ke tebing keraton mas..

      mahal banget ojeknya dari Hutan raya.

      btw salam kenal juga kak :D..

      bukan rastaman tetapi cukup disebut reggae man aja kak, karena rasta itu the way of life ajaran haile sellasie, tetapi kalo reggae just music 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s