Kota Tua, Saksi Bisu Kehilangan Karakter Warga Jakarta

Saya melihat modernisasi mulai mengubah kota ini, dengan muda mudi yang lebih senang menikmati minuman sambil nongkrong di sevel dan menghabiskan canda tawanya dalam kamar sambil saling memanjakan kenikmatan yang seharusnya bukan haknya.

Entah kenapa saya tiba-tiba ingin menulis mengenai kota Jakarta. Padahal dari A-Z dan dari angka 1-9 aku sungguh tidak rela untuk tinggal disini. Apalagi alasannya yang harus kukakatan, Macetnyakah, harga makanan yang mahal atau tentang ramah tamah warganya yang memang jauh dari kata sopan, walau memang tidak semua tapi saat kita melihat bilangan maka sebagian besar jawabnya adalah iya.

image

image

Ibu kota Negara INDONESIA merupakan percontohan bangsa. Dimana mungkin tolak ukur negeri dilihat dari cermin Jakarta walau sungguh senyatanya itu tidak benar.Karena Ada banyak disana di daerah yang masih mempunyai karakter yang kuat. Di jawa tengah misalnya, dimana sebagian warganya terkenal dengan karakter yang halus. Di Jawa Timur dengan karakter bicara yang keras namun Jujur begitu juga Palembang, Aceh atau  bahkan mungkin Papua. Tapi saat kita kembali dengan Jakarta. Adakah yang hilang atau memang percampuran semua suku berada disini dan modernisasi menggerusnya.

Kurasa ini hanya pemikiran yang mungkin tidak sesuai dengan pendapat kalian. Tapi sore ini dengan diiringi waktu saya pergi ke suatu tempat yang mungkin sudah terkenal dan mungkin sudah sangat banyak orang yang pernah kesana. Kota Tua, salah satu keunikan Jakarta disana peninggalan Belanda Masih berdiri kokoh. Menggambarkan karakter Warga Jakarta dalam peran serta memerdekan bangsa. Dulu… dulu sekali mungkin tapi wajah kota tua tak boleh lupa dengan saksi dinding berbicara bahwa kota ini ingin bercerita.Mungkin kepada kami yang datang dari perantauan untuk sekedar mengadu nasib atau suratan takdir. Tapi apapun itu aku mulai membacanya bahwa sejarah akan terus dikenang di kota ini dan semoga bukan modernisasi yang mulai mengikis mental bangsa bagi mereka yang tak dapat menyaringnya antara positif dan negative.

Kota Tua adalah sekelumit kisah bahwa bangunan ini merupakan cerita nyata bagaimana Belanda menguasai negeri. Untuk menuju kesana sebenarnya sangat simple. Kita bisa menempuhnya dengan Kereta listrik. Saya berangkat dari stasiun Tebet dan Cuma dikenakan biaya Rp 7.500 untuk berangkat. Dan 2,500 untuk pulang. Saya sendiri heran kenapa murah sekali perjalanan pulangnya. Mungkin karena saat berangkat kita menjaminkan kartu elektrik untuk tanda masuk. Sekali lagi mungkin.

image

Saat turun dari stasiun Jakarta Kota kita sebenarnya sudah melihat bagaimana arsitektur lama meghiasi sekelilingnya. Setelah Keluar sedikit kita bisa melihat Bank Indonesia, Museum BNI dan Lapangan Fatahillah.

image

image

Kota Tua atau disebut Juga Batavia Lama merupakan wilayah khusus yang memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat sempat dijuluki Permata Asia dan Ratu dari Timur pada abad Ke 16. Selamat menikmati sejarah. Saksi kota yang melihat warganya mulai kehilangan karakter.

image

image

image

image

image

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s